jump to navigation

Kisah 1 Ramadhan 1431 H [2] August 13, 2010

Posted by chika-chika kelap-kelip in Activities.
Tags: , , , ,
add a comment

Sesampainya di kampus saya langsung bergegas menuju lab. Seperti biasa, puasa tidak puasa, lab selalu ramai. Para peneliti sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya. (Duh ilee, penelitiii..! :P) Pekerjaan yang akan saya tangani sekarang ini berhubungan dengan RNA, dimana perlakuannya berbeda dengan penanganan untuk DNA. Sekarang saya selalu bekerja dengan sarung tangan bersih dan ekstra hati-hati. Belum lagi alat-alat dan larutan yang digunakan harus di-treatment dengan DEPC yang bersifat karsinogenik. DEPC merupakan senyawa inhibitor untuk RNA-se yang ada di mana-mana, sehingga RNA yang akan diisolasi tidak mudah terdegradasi.

Jadwal saya hari ini adalah membuat beberapa larutan. Namun, berhubung pelarutnya (DEPC-treated water) hanya tinggal 300 mL, saya hanya dapat membuat 3 macam larutan saja, yaitu EDTA, Tris-Cl, dan NaCl. Untuk membuat larutan ini saya harus menimbang bahan-bahannya yang berupa bubuk, melarutkannya dalam DEPC-treated water dengan cara memutar botol ke arah horizintal dengan cepat secara manual. Kali ini saya tidak menggunakan magnetic stirrer karena belum di-DEPC. Padahal kan lumayan banget tuh kalau pakai itu, menghemat waktu dan energi.

Daaannn,, rekor!! Saya hanya membutuhkan waktu 30 menit saja untuk melarutkan EDTA! Yang sebelumnya minimal 2 jam saya habiskan untuk membuat larutan itu (padahal menggunakan magnetic stirrer). Mungkin ini akibat kocokan yang terlalu dahsyat. hehe!
Selanjutnya, saya membuat Tris-Cl. Setelah saya menuangkan pelarut dalam bubuk Tris Base dan mengocoknya perlahan,, Jiah! Langsung larut dong ga nyampe 2 menit! T___T
Tapi saya juga membutuhkan cukup banyak waktu untuk membuat NaCl, yaa sekitar 20 menit lah. Padahal bikin larutan garam doang. huh.

Pekerjaan saya membuat larutan tidak usai sampai di situ, melainkan saya harus mensterilisasinya dengan autoklaf. Proses sterilisasinya hanya 15 menit, tetapi tektekbengeknya yang membuat proses ini menjadi lama. Pertama, proses penjenuhan uap air berlangsung 10-15 menit, proses penaikan tekanan berlangsung selama 30 menit, barulah pada tekanan 15 lbs dan suhu 121 derajat Celcius waktu di-set selama 15 menit. Setelah sterilisasi selesai, sebenarnya autoklaf dapat kita tinggal begitu saja sampai keesokan harinya sambil menunggu tekanan turun, asalkan tutup/klepnya tidak dibuka. Tetapi karena takut saya tidak bisa ke kampus pagi-pagi, jadi terpaksa saya tunggu sampai tekanan turun (sekitar 10-15 menit), dan baru saya keluarkan larutannya.

Sambil menunggu sterilisasi, saya membuat stok baru DEPC-treated water. Tetapi saya kebingungan mencari DEPC milik FMD (inisial dosen saya) di kulkas, karena saking banyaknya botol-botol yang mirip tetapi isinya tidak sama dan berbeda pula pemiliknya. Akhirnya saya bertanya kepada senior satu tim.
Saya: “Teh, DEPC-nya FMD disimpan di mana ya? ada inisialnya gak?”
PS: “Tunggu sebentar ya, saya tanya DH dulu.” (kemudian dia menelepon senior saya yang lain)

PS: “Chik, kata DH ada di rak bagian atas dalam pintu kulkas. Tapi gak tau tuh ada insialnya ato enggak.”
Saya:” Hah? Ohh, gitu ya teh. Ok.”
Lalu PS menunjuk suatu botol coklat kecil bertutup hitam yang dibungkus plastik obat di dalam kulkas. Label di botol itu bertuliskan “Diethyl pyrocarbonate” (DEPC), tetapi tidak ada inisial FMD.
PS: “Yang ini kali ya. Pakai saja dulu.”
Saya: “Ok.”
Saya pun membuat DEPC-treated water menggunakan DEPC dari botol itu. Komposisinya 1 mL DEPC dicampurkan dalam 1 L air deion, dan disimpan pada 37 derajat Celcius selama overnight.

——————————————————————————————————–

Cerita tambahan:
Keesokan harinya PS memperlihatkan botol yang lebarnya dua kali lipat dari botol DEPC yang saya gunakan kemarin dan bertutup merah. Dan! berlabel FMD..
Jadi, yang kemarin saya pakai punya siapa dong?!??!?!
*pura-pura tidak tahu*
😀

Advertisements

Kisah di 1 Ramadhan 1431 H August 12, 2010

Posted by chika-chika kelap-kelip in Activities.
Tags: , ,
2 comments

1 Ramadhan 1431 H ini jatuh pada kalender Masehi, Rabu, 11 Agustus 2010. Sebagai hari pertama di bulan suci ini harusnya ada sesuatu yang spesial ya,, baik dalam hal spiritual, maupun yang lain.

Hari ini merupakan hari pertama kalinya saya naik bus sendirian ke kampus (katrok banget ya saya), soalnya saya biasa naik angkot. Walaupun sudah siang, saya bela-belain nunggu lama (pikir saya) di dalam bus yang sedang “ngetem” di terminal Leuwi Panjang. Eh, taunya belum lima menit saya duduk, kursi bus sudah terisi penuh dan bus berangkat. Rute bus DAMRI Lw.Panjang – Dago berbeda dengan rute angkot (baru tahu saya), yaitu dengan urutan dari terminal ke arah Pasirkoja, Astana Anyar, Gardujati, Stasiun Bandung, Viaduct, Wastukencana, lalu Dago. Sedangkan rute angkot yang biasa saya tumpangi kalau pergi ke kampus adalah Cibaduyut – Kebon Kelapa (turun di terminal Leuwi Panjang atau di perempatan Kopo, lalu sambung dengan angkot yang sama supaya mengirit waktu, soalnya angkot ini biasanya muter dulu ke Sukahaji, dan turun di Kebon Kelapa), lalu Kebon Kepala – Dago (terminal Kebon Kelapa sampai Jl.Ganeca atau Jl. Dayang Sumbi). Ah, udah kayak emang-emang angkot aja saya ini.

Ternyata naik bus tidak seperti yang saya bayangkan! Saya pikir di dalam bus itu udah kek dipindang aja, sampai nantinya waktu sampai tujuan kita sudah gak berbentuk lagi. haha. Terus ngebayangin “sedek-sedekan” di antara para pencopet. hiii! Ternyata naik bus tidak seseram itu. Tadi sih, di bus yang saya tumpangi tidak sampai ada penumpang yang berdiri karena tidak mendapat tempat duduk. Tidak ada pula orang yang mencurigakan layaknya copet (sudah pengalaman berkali-kali duduk di sebelah copet soalnya, hehe). Waktu yang ditempuh menuju kampus pun lebih cepat, mungkin karena bus kagak ngetem-ngetem kayak angkot kali ya. Hawa dalam bus juga tidak terlalu panas, jadi pas turun dari bus bentuk saya masih agak kelihatan lah ya 😀

Bersambung…