jump to navigation

Penjual Kacamata February 19, 2011

Posted by chika-chika kelap-kelip in Activities.
Tags: ,
trackback

Sepulang kantor, saya bersama kedua teman saya bergegas menuju sebuah terminal bus dalam rangka pulang ke Bandung. Seperti biasa, para pedagang sangat bersemangat menjajakan jualannya di dalam bus yang belum berangkat, salah satunya adalah si penjual kacamata.

Teman saya yang pertama (At*n) duduk di depan saya, dan teman kedua (N*a) duduk di samping saya. Bukannya menguping, namun karena saking bosannya saat menunggu bus untuk berangkat, saya jadi memerhatikan sekeliling saya, termasuk percakapan si penjual kacamata dengan salah satu penumpang yang duduk di depan At*n. Ternyata penumpang tersebut memutuskan untuk membeli kacamata yang dijajakan.

Si penjual kacamata kemudian menuju penumpang (yang dianggap sebagai calon pembeli) selanjutnya, yaitu At*n. Sebenarnya saya ga terlalu ingat persis perbincangannya, tapi kira-kira seperti ini.
Penjual kacamata (PK): “Mau yang mana, Dek?” (menawarkan sekaligus memperlihatkan sebuah kacamata sambil tersenyum)
At*n (A): “Enggak, Bang.” (tolaknya dengan halus)
PK: “…….bla bla bla………..”
A: “Enggak.” (seraya tersenyum sambil nyengir)
PK: “Nih gua gratisin deh. Loe kan anak sekolah, gak punya duit kan? Makanya gua gratisin. Klo loe udah kerja, gua mahalin..” (mungkin si A masih terlihat polos seperti anak sekolahan)
A: “Enggak, Bang, makasih..”
PK: “Ini gua gratisin. Anak sekolahan kan gak punya duit kan? Nih gua kasih. Kagak dipelet kok. Beneran dah kagak ada peletnya.” (memaksa sambil meyakinkan. Sedangkan saya dan N*a hanya bisa menahan ketawa)
Dan At*n berusaha keras untuk menolaknya, lalu pada akhirnya si penjual kacamata menyerah.

Lanjutlah si abang-abang penjual kacamata itu datang menghampiri kami (saya dan N*a). Melihat kami berdua yang memakai kacamata (NB: At*n tidak memakai kacamata), si abang kecewa.
PK: “Yaaahh,, udah punya dianya. Percuma nawarin, gua jualan ampe mati juga kagak bakal laku!” (bentuk kekecewaannya disampaikan seraya menyunggingkan senyum yang ‘enggak banget’)
Saya dan N*a hanya bisa menahan tawa kami sampai abang-abangnya bergerak ke kursi belakang, lalu kami lepaskan tawa dengan suara seminimal mungkin.

Duuh,, si abang aneh banget siiih… -_______-‘

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: